| Sumber Gambar: google.co.id |
Untuk memperoleh produksi hasil dan mutu kopi yang baik, selain harus menggunakan klon/varietas unggul, maka tanaman kopi juga hendaknya dipelihara secara baik,
Bahan tanaman
Beberapa varietas kopi yang dianjurkan seperti tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Beberapa varietas/klon anjuran tanaman kopi
| No. | Jenis kopi | Varietas/Klon | Potensi produksi (kg/ha) |
| A. | Kopi Robusta | BP42, BP234, BP288, BP358, BP409, SA234, BP436, BP534, BP936, SA203 | 800 - 3.700 |
| B. | Kopi Arabika | Kartika-1, Kartika-2, USDA-762, Abesiania-3, Andungsari-1, S-795, | 1.200 - 1.900 |
Perbanyakan bahan tanaman
Tanaman kopi dapat diperbanyak secara generatif menggunakan benih atau biji maupun vegetative/klonal. Perbanyakan secara generatif lebih umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, dan membutuhkan waktu lebih singkat dalam penyiapan bibit siap tanam dibandingkan secara klonal.
Tanaman kopi dapat diperbanyak secara generatif menggunakan benih atau biji maupun vegetative/klonal. Perbanyakan secara generatif lebih umum digunakan karena mudah dalam pelaksanaanya, dan membutuhkan waktu lebih singkat dalam penyiapan bibit siap tanam dibandingkan secara klonal.
Penanaman
Jarak tanam kopi dapat disesuaikan dengan kemiringan tanah. Beberapa contoh penggunaan jarak tanam (populasi/hektar) bervariasi dari 2 - 2.5 m x 2.5 - 4 m atau populasi 1300 - 2000 pohon per hektar.
Jarak tanam kopi dapat disesuaikan dengan kemiringan tanah. Beberapa contoh penggunaan jarak tanam (populasi/hektar) bervariasi dari 2 - 2.5 m x 2.5 - 4 m atau populasi 1300 - 2000 pohon per hektar.
Pemupukan
Tujuan pemupukan adalah untuk meningkatkan daya tahan tanamn, produksi dan mutu hasil. Pemberian pupuk dilakukan harus tepat waktu, dosis dan jenis pupuk serta cara pemberiannya. Faktor-faktor seperti jenis tanah, iklim dan umur tanaman sangat berpengaruh terhadap efektifitas pemupukant. Pupuk diberikan sekitar 30-40 cm dari batang pokok. Pedoman umum pemupukan tanaman kopi seperti pada Tabel 2.
Tujuan pemupukan adalah untuk meningkatkan daya tahan tanamn, produksi dan mutu hasil. Pemberian pupuk dilakukan harus tepat waktu, dosis dan jenis pupuk serta cara pemberiannya. Faktor-faktor seperti jenis tanah, iklim dan umur tanaman sangat berpengaruh terhadap efektifitas pemupukant. Pupuk diberikan sekitar 30-40 cm dari batang pokok. Pedoman umum pemupukan tanaman kopi seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Pedoman umum pemupukan tanaman kopi
| Umur tanaman (tahun) | Awal musim hujan (g/ph/th) | Akhir musim hujan (g/ph/th) | ||||||
| Urea | SP36 | KCl | Kieserit | Urea | SP36 | KCl | Kieserit | |
| 1 | 20 | 25 | 15 | 10 | 20 | 25 | 15 | 10 |
| 2 | 50 | 40 | 40 | 15 | 50 | 40 | 40 | 15 |
| 3 | 75 | 50 | 50 | 25 | 75 | 50 | 50 | 25 |
| 4 | 100 | 50 | 70 | 35 | 100 | 50 | 70 | 35 |
| 5-10 | 150 | 80 | 100 | 50 | 150 | 80 | 100 | 50 |
| >10 | 200 | 100 | 125 | 70 | 200 | 100 | 125 | 70 |
Sumber : Puslitkoka (2006)
Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan agar pohon tetap rendah sehingga mudah dalam perawatan, termasuk pengaturan cahaya dan pengendalian hama penyakit. Pemangkasan dapat dilakukan ketika panen dengan membuang cabang-cabang tidak produktif, cabang liar maupun yang sudah tua.
Tanaman peneduh
Sebelum benih kopi dipidah-tanamkan di lapangan, lahan harus ditanam pohon peneduh (penaung). Pohon peneduh harus memiliki persyaratan perakaran yang dalam, percabangan yang mudah diatur, ukuran daun relatif kecil dan tidak mudah rontok, sehingga kebutuhan minimal cahaya matahari yang masuk optimal. Selain itu, berumur panjang dan menghasilkan banyak bahan organik serta tidak menjadi inang hama‐penyakit kopi.
Sebelum benih kopi dipidah-tanamkan di lapangan, lahan harus ditanam pohon peneduh (penaung). Pohon peneduh harus memiliki persyaratan perakaran yang dalam, percabangan yang mudah diatur, ukuran daun relatif kecil dan tidak mudah rontok, sehingga kebutuhan minimal cahaya matahari yang masuk optimal. Selain itu, berumur panjang dan menghasilkan banyak bahan organik serta tidak menjadi inang hama‐penyakit kopi.
a. Peneduh sementara
Jenis tanaman penaung sementara yang banyak digunakan a.l. Flemingia congesta, Crotalaria spp, Tephrosia spp. F. congesta cocok untuk daerah dengan tinggi tempat < 700 m dpl. Sedangkan untuk wilayah ketinggian tempat >1.000 m dapat menggunakan Tephrosia atau Crotalaria.
b. Peneduh tetap
Pohon peneduh tetap yang banyak digunakan a.l. lamtoro, sengon, dadap, dan gliricidia. Pohon peneduh tetap ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m. Dengan dengan semakin besar, secara bertahap dijarangkan menjadi 4 m x 5 m, dan akhirnya 10 m x 10 m.
Jenis tanaman penaung sementara yang banyak digunakan a.l. Flemingia congesta, Crotalaria spp, Tephrosia spp. F. congesta cocok untuk daerah dengan tinggi tempat < 700 m dpl. Sedangkan untuk wilayah ketinggian tempat >1.000 m dapat menggunakan Tephrosia atau Crotalaria.
b. Peneduh tetap
Pohon peneduh tetap yang banyak digunakan a.l. lamtoro, sengon, dadap, dan gliricidia. Pohon peneduh tetap ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m. Dengan dengan semakin besar, secara bertahap dijarangkan menjadi 4 m x 5 m, dan akhirnya 10 m x 10 m.
Pengendalian hama dan penyakit
Nematoda. Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis merupakan nematoda endoparasit yang mobil. Gejala tanaman terserang kerdil, daun menguning dan gugur. Pertumbuhan cabang primer terhambat, sehingga menghasilkan sedikit bunga, bunga prematur dan banyak yang kosong. Perakaran serabut membusuk, berwarna coklat atau hitam, dan akhirnya mati. Pengendalian, secara kimiawi (fumigant: Basamid G, Vapam L); nematisida (Curater 3G, Vydate 100 AS, Rhocap 10G dan Rugby 10G.), consent. 1,0%, dosis 250 ml/bibit), atau penggunaan jenis kopi tahan nematoda parasit.
Penggerek buah kopi, atau bubuk buah kopi (BBK), disebabkan oleh Hypothenemus hampei. Gejala, serangga masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah, pada buah tua biji kopi cacat (berlubang) dan bermutu rendah. Pengendalian, secara kultur teknis memutus daur hidup, yaitu petik bubuk, lelesan, dan racutan.
Penyakit karat daun, disebabkan oleh Hemileia vastatrix B. Gejala bercak‐bercak berwarna kuning muda pada sisi bawah daun, kemudian menjadi kuning tua. Terbentuk tepung berwarna jingga cerah (oranye). Daun yang terserang parah akan gugur dan tanaman gundul.
Penyakit bercak daun, disebabkan oleh jamur Cercospora coffeicola. Gejala, serangan terjadi pada daun maupun buah. Pengendalian, secara kultur teknis memberi naungan cukup, pemupukan berimbang dan pengurangan kelembaban udara (pemangkasan dan pengendalian gulma). Secara kimiawi, penyemprotan Bavistin 50 WP 0,2%, Cupravit OB 21 0,35%, Dithane M 45 80 WP 0,2%, Delsene MX 200 0,2%.
Nematoda. Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis merupakan nematoda endoparasit yang mobil. Gejala tanaman terserang kerdil, daun menguning dan gugur. Pertumbuhan cabang primer terhambat, sehingga menghasilkan sedikit bunga, bunga prematur dan banyak yang kosong. Perakaran serabut membusuk, berwarna coklat atau hitam, dan akhirnya mati. Pengendalian, secara kimiawi (fumigant: Basamid G, Vapam L); nematisida (Curater 3G, Vydate 100 AS, Rhocap 10G dan Rugby 10G.), consent. 1,0%, dosis 250 ml/bibit), atau penggunaan jenis kopi tahan nematoda parasit.
Penggerek buah kopi, atau bubuk buah kopi (BBK), disebabkan oleh Hypothenemus hampei. Gejala, serangga masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang. Serangan pada buah muda menyebabkan gugur buah, pada buah tua biji kopi cacat (berlubang) dan bermutu rendah. Pengendalian, secara kultur teknis memutus daur hidup, yaitu petik bubuk, lelesan, dan racutan.
Penyakit karat daun, disebabkan oleh Hemileia vastatrix B. Gejala bercak‐bercak berwarna kuning muda pada sisi bawah daun, kemudian menjadi kuning tua. Terbentuk tepung berwarna jingga cerah (oranye). Daun yang terserang parah akan gugur dan tanaman gundul.
Penyakit bercak daun, disebabkan oleh jamur Cercospora coffeicola. Gejala, serangan terjadi pada daun maupun buah. Pengendalian, secara kultur teknis memberi naungan cukup, pemupukan berimbang dan pengurangan kelembaban udara (pemangkasan dan pengendalian gulma). Secara kimiawi, penyemprotan Bavistin 50 WP 0,2%, Cupravit OB 21 0,35%, Dithane M 45 80 WP 0,2%, Delsene MX 200 0,2%.
Sumber : Agro Inovasi, Litbang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar